Pusat Riset Sapi Aceh dan Ternak Lokal (PRSATL) Universitas Syiah Kuala (USK) mengambil langkah proaktif dalam memajukan sektor peternakan melalui penyelenggaraan kuliah umum bertajuk “The Future and Challenges of Local Livestock”. Acara yang berlangsung pada Kamis, 4 September 2025, ini menarik perhatian puluhan mahasiswa, akademisi, dan praktisi di Meeting Room 02 Fakultas Pertanian USK. Kuliah umum yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.30 WIB ini menjadi forum diskusi yang hangat dan penuh wawasan.

Kuliah umum ini menghadirkan pembicara terkemuka di bidang peternakan, yang memaparkan berbagai tantangan dan peluang dalam mengembangkan ternak lokal. Mereka menyoroti isu-isu krusial seperti perubahan iklim, penyakit, serta persaingan dengan produk impor. Namun, di balik tantangan tersebut, juga ditekankan potensi besar yang dimiliki ternak lokal. Dengan adaptasi yang superior terhadap lingkungan setempat, ternak seperti sapi Aceh menawarkan solusi berkelanjutan untuk ketahanan pangan.
Kepala PRSATL, Prof. Dr. Ir. Eka Meutia Sari, M.Sc., menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme peserta yang terlibat aktif dalam sesi diskusi. “Seminar hari ini membuktikan betapa pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan praktisi dalam mengembangkan peternakan lokal,” ungkap Prof. Eka. Ia menambahkan bahwa PRSATL USK berkomitmen untuk terus melakukan riset inovatif yang dapat memberikan solusi nyata bagi para peternak.
Prof. Eka juga menyoroti peran strategis sapi Aceh dan ternak lokal lainnya dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Sapi Aceh, misalnya, bukan hanya sekadar sumber protein, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. “Ternak lokal memiliki adaptasi yang superior terhadap kondisi lingkungan setempat. Tugas kita adalah mengoptimalkan potensi ini melalui pendekatan ilmiah yang tepat,” tambahnya.
Kuliah umum ini bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun sinergi antara dunia akademik dan praktik lapangan. Melalui riset dan inovasi yang berkelanjutan, diharapkan sektor peternakan lokal dapat tumbuh lebih kuat dan mandiri, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian dan ketahanan pangan di Aceh.